Bagaimana Infrastruktur Lemah Memperparah Dampak Banjir?
Halo teman-teman pembaca yang baik hati 😊🌧️ Kadang kita merasa bahwa banjir adalah bencana “alam semata”, padahal faktanya tidak sesederhana itu. Banyak banjir besar yang terjadi di berbagai kota di Indonesia justru dipicu atau diperparah oleh faktor buatan manusia—salah satunya adalah infrastruktur yang lemah, tidak terencana, atau tidak terpelihara dengan baik.
Tulisan ini mengajak kita melihat lebih dalam bagaimana infrastruktur berperan sebagai “penjaga” lingkungan, dan bagaimana kelemahan pada infrastruktur bisa membuat banjir kecil berubah menjadi malapetaka besar. Yuk kita ngobrol santai namun detail, supaya semakin banyak dari kita yang paham dan bisa ikut mendorong perubahan yang lebih baik 😊💧
Infrastruktur dan Peran Pentingnya dalam Mencegah Banjir
Infrastruktur bukan hanya gedung, jembatan, atau jalan raya. Dalam konteks pengendalian banjir, infrastruktur meliputi:
-
Sistem drainase
-
Sungai dan kanal
-
Waduk dan embung
-
Pintu air dan pompa
-
Jalur hijau dan kawasan resapan
-
Tata kota dan tata permukiman
Semua elemen ini bekerja bersama untuk memastikan air hujan dan limpasan permukaan dapat dialirkan, diserap, atau dialihkan dengan aman.
Tetapi ketika satu saja bagian rusak—atau bahkan tidak ada—banjir dapat meningkat berkali-kali lipat. Infrastruktur yang lemah seperti domino: ketika satu roboh, yang lain ikut tumbang 😥
1. Sistem Drainase Tidak Memadai: Jalur Air yang “Macet”
Sistem drainase ibarat “pembuluh darah” kota. Jika lancar, lingkungan sehat. Jika tersumbat, banjir tinggal menunggu waktu.
Fakta menarik: Kota-kota besar idealnya memiliki kapasitas drainase yang mampu menampung intensitas hujan 5–10 tahunan. Artinya, sistem drainase dirancang agar mampu menghadapi hujan besar yang terjadi rata-rata setiap lima sampai sepuluh tahun.
Di banyak kota di Indonesia, drainase justru:
-
Terlalu kecil
-
Tidak dirawat
-
Dipenuhi sedimen
-
Tertutup sampah
-
Tidak terhubung secara terstruktur antara satu blok kota ke blok lain
Akibatnya, air yang seharusnya mengalir ke sungai malah tertahan di permukaan jalan. Tidak heran kita sering melihat genangan muncul dalam hitungan menit ketika hujan lebat baru saja turun.
2. Alih Fungsi Ruang Hijau: Tanah Kehilangan Kemampuannya Menyerap Air
Bayangkan tanah seperti spons besar. Saat hujan turun, spons itu akan menyerap sebagian air sebelum sisanya mengalir ke permukaan. Tetapi ketika lahan hijau berubah menjadi beton, kemampuan spons itu hilang.
Inilah yang terjadi ketika:
-
Hutan kota ditebang
-
Tanah lapang diganti perumahan
-
Lahan resapan dijadikan mal atau gedung
Selain kehilangan daya serap, beton membuat air hujan mengalir lebih cepat dan lebih banyak ke drainase. Sistem drainase melemah, beban aliran meningkat, banjir pun menjadi lebih sering dan lebih parah.
Dalam istilah ilmiah, fenomena ini disebut runoff meningkat, yaitu limpasan air di permukaan tanah yang jumlahnya melebihi kapasitas sistem pengendali banjir.
3. Sungai Menyempit dan Penuh Sedimentasi
Sungai itu dinamis. Ia bisa melebar, menyempit, berubah alur, dan mengalami sedimentasi. Namun sungai yang tidak dirawat akan kehilangan fungsi pentingnya sebagai saluran utama pembuangan air.
Penyebab penyempitan sungai antara lain:
-
Pemukiman di bantaran sungai
-
Penumpukan sampah
-
Endapan lumpur
-
Pengerukan yang tidak rutin
-
Struktur sungai yang sudah tidak sesuai kapasitas hujan masa kini
Ketika sungai menyempit, debit air besar yang masuk tidak bisa keluar dengan cepat. Ini yang membuat air sungai meluap, membanjiri kawasan sekitar dalam waktu singkat.
4. Pintu Air dan Pompa yang Tidak Optimal
Di kota-kota pesisir seperti Jakarta, Semarang, dan Surabaya, pintu air dan pompa sangat penting. Mereka berfungsi sebagai “penjaga gerbang” yang mencegah air laut masuk dan membantu membuang air hujan ke laut.
Namun kenyataan yang sering ditemukan:
-
Pompa tidak aktif karena mati listrik
-
Mesin pompa rusak dan tidak segera diperbaiki
-
Kapasitas pompa kecil untuk debit air besar
-
Operator tidak cukup untuk mengontrol pintu air selama curah hujan ekstrem
Dampaknya? Air yang seharusnya dibuang malah tertahan, banjir semakin meluas.
5. Penataan Kota yang Tidak Berbasis Data Hidrologi
Sering kali, pembangunan kota berjalan lebih cepat daripada kajian lingkungan dan analisis risiko bencana. Akibatnya:
-
Permukiman dibangun di dataran rendah yang seharusnya menjadi daerah tampungan air
-
Gedung tinggi menghalangi arah aliran air alami
-
Trotoar ditinggikan tanpa memperhatikan kapasitas drainase
-
Kawasan komersial menambah luas permukaan kedap air
Kota yang tidak dirancang dengan memperhatikan data hidrologi seperti kota tanpa peta: aliran air menjadi tidak beraturan, dan banjir menjadi kejadian yang "normal".
6. Perubahan Iklim Memperparah Infrastruktur yang Sudah Lemah
Curah hujan ekstrem makin sering terjadi. Fenomena La Niña dan pemanasan global membuat hujan deras muncul lebih lama dan lebih intens daripada yang diprediksi 20–30 tahun lalu.
Jika dulu drainase dibangun untuk menahan hujan 100 mm per hari, kini hujan 200 mm per hari bisa terjadi. Infrastruktur lama tidak lagi cocok untuk kondisi baru.
Inilah alasan mengapa banyak kota besar di dunia sedang melakukan proyek climate-resilient infrastructure, atau infrastruktur tahan perubahan iklim. Tanpa adaptasi, infrastruktur lama akan terus kalah oleh hujan modern.
Dampak Sosial & Ekonomi: Tidak Bisa Dianggap Remeh
Ketika infrastruktur gagal mengatasi banjir, dampaknya tidak hanya air tergenang. Dampaknya meluas pada berbagai aspek:
-
Mobilitas terhenti – Orang tidak bisa bekerja, jalan macet total.
-
Kerugian ekonomi – Toko tutup, barang rusak, kegiatan industri berhenti.
-
Kesehatan masyarakat – Meningkatnya penyakit kulit, diare, leptospirosis.
-
Pendidikan terganggu – Sekolah diliburkan berhari-hari.
-
Kualitas hidup menurun – Rumah tergenang, perabot rusak, emosi terforsir.
Banjir bukan sekadar air menggenang, melainkan krisis yang merembet ke setiap sisi kehidupan sosial.
Bagaimana Infrastruktur Bisa Diperkuat?
Ada beberapa langkah yang umumnya direkomendasikan oleh ahli hidrologi dan perencana kota:
-
Meningkatkan kapasitas drainase utama dan sekunder
-
Pengerukan sungai secara rutin
-
Rehabilitasi pintu air dan penambahan pompa
-
Membuat ruang terbuka hijau minimal 30% dari luas kota
-
Membangun sistem rainwater harvesting atau penampungan air hujan
-
Menerapkan konsep sustainable urban drainage system (SUDS)
-
Mengatur penggunaan lahan secara ketat
-
Menyusun tata kota berbasis data curah hujan dan topografi
Langkah-langkah ini bukan teori belaka, tetapi sudah terbukti sukses diterapkan di kota-kota seperti Tokyo, Singapura, dan Rotterdam.
Kesimpulan: Infrastruktur Lemah adalah Pemicu Utama Banjir Perkotaan
Banjir memang bagian dari fenomena alam, tetapi kerusakan yang ditimbulkannya sangat bergantung pada kekuatan atau kelemahan infrastruktur kita. Infrastruktur yang kuat ibarat perisai; infrastruktur yang lemah ibarat celah besar yang membuat bencana semakin parah.
Dengan memahami peran infrastruktur, kita bisa mendorong pemerintah, komunitas, dan diri kita sendiri untuk lebih peduli pada lingkungan dan perencanaan kota. Banjir bukan takdir yang tak bisa dilawan—ini adalah masalah teknis yang bisa diselesaikan bila kita mau bekerja sama dan berpikir jauh ke depan.
Terima kasih sudah membaca sampai akhir teman-teman 😊 Semoga tulisan ini memberi wawasan baru dan menjadi pengingat bahwa pembangunan yang baik adalah pembangunan yang memperhatikan alam dan manusia.
Artikel ini dibuat oleh ChatGPT.
0 Komentar untuk "Bagaimana Infrastruktur Lemah Memperparah Dampak Banjir?"
Silahkan berkomentar sesuai artikel